Selasa, Mei 26, 2009

Masih Seputar Masa Lalu

Menceritakan kisah masa lalu memang ndak akan pernah ada habisnya. Apalagi masa lalunya itu penuh dengan warna hitam alias suram.
Saya berani sumpah teman-teman, bahwa menjadi copet bukanlah pilihan hidup saya. Saya nekad melakukannya waktu itu memang karena keadaan saja. Dimana saya harus berjuang sendiri, membiayai sekolah saya karena kedua orang tua saya ndak mampu. Dan saya ndak mau sekolah saya yg sudah hampir lulus itu, putus begitu saja, setelah dua tahun saya bela-belani menjadi kacungnya sepasang pengusaha. Setiap pagi sebelum subuh harus bangun memberi makan anjing yg sebenarnya sangat tidak saya sukai karena najis. Kemudian agak siangan sedikit harus mencuci sepeda montor, mencuci mobil dan memanaskan mesinnya. Lalu menyiram taman sebelum akhirnya saya minta ijin berangkat ke sekolah. Belum lagi kalo siang, sepulang sekolah, saya harus membantu Ibu di retorannya. Bukan sebagai pelayan tapi sebagai seksi sibuk, disuruh kesana kemari, sampai ikut membantu korah-korah, mencuci piring kotor.
Tapi ya begitulah namanya juga ikut orang, demi sekolah, saya harus menuruti apapun yg diperintah.
Hingga akhirnya pasangan pengusaha itu bangkrut, menjual semua asetnya dan memaksa saya harus terus bertahan hidup sendiri di tengah kejamnya kota Surabaya. Dan ndilalahnya koq ya profesi copet itu yg waktu itu banyak membantu urusan keuangan sekolah saya.

Dan begitulah awal kebejatan saya, semenjak kejadian itu (seperti yg saya ceritakan kemarin), selanjutnya saya menjadi ketagihan untuk mendapatkan uang dengan cara mudah (nyopet).
Meski sebenarnya sangat bertentangan dengan hati nurani, toh akhirnya saya terpengaruh juga oleh rayuan teman saya yg setiap saat ketemu dan memamerkan lembaran uang ratusan ribu hasil jarahannya. Dia bilang waktu itu, (walah bahasa saya sepertinya sudah mulai gaul ya? Mungkin kebanyakan mbaca artikelnya Mas Rio, hehehe... jadi ketularan.)
Teman saya bilang begini waktu itu, kamu ngamen pualing banter limabelas ribu sehari, iya kan? Itupun kalo rame. Lha kalo sepi, berapa cobak? Makanya lebih baik ikut saya saja. Kamu ndak perlu jadi copetnya koq, cuma 'jadi penadah saja'. Waktu itu saya ndak paham 'jadi penadah saja' itu apa maksudnya. Sampai akhirnya dengan segala kepolosan saya, tawaran itu saya terima. Dia yg bagian nyopet, saya yg mengamankan.

Maaf teman-teman, sebelum cerita ini saya lanjutkan, saya mau minta maaf dulu ya. Saya cerita begini ini, sama sekali bukan bermaksud bangga dengan profesi bejat saya itu dan apa lagi untuk mengajari kalian bagaimana menjadi copet yg profesional. Sama sekali bukan. Tapi ini semua saya maksudkan semata-mata hanya agar kalian waspada saja. Jangan terpengaruh dengan muka-muka polos yg bergaya anak sekolah, padahal sebenarnya dia copet kelas kakap. Waktu itu memang modus sepetri ini yg tergolong paling aman. Dan itu juga baru kami yg pertama kali melakukan. Sekali lagi saya minta maaf ya.

Jadi lanjutan ceritanya begini, waktu itu, kami beraksi rata-rata pada jam-jam anak sekolah, baik pagi pas usumnya berangkat maupun siang dan sore waktunya anak-anak pulang sekolah.
Kalo keadaan bis kota sedang sepi penumpang, saya yg pertama mendekati target, mengajak ngobrol dengan gaya yg sesopan mungkin, sambil menyiapkan tas saya agar mudah dimasuki hasil jarahan. Dan disaat target itu asyik mendengarkan cerita saya ngalor ngidul, teman saya segera beraksi memperagakan keahliannya mengambil dompet orang dengan kecepatan tinggi tanpa disadari oleh sang target. Dan ketika tas cangklong saya sudah terasa ada yg narik, berarti itu saatnya saya pamit mau turun. Tentu saja bersama-sama dengan teman saya itu. Dia lewat pintu belakang sedangkan saya dari pintu depan.
Dan setelah turun dari bis....

Sebentar ya, sepertinya tulisan saya ini terlalu panjang. Membuat bosan ya?
Daripada membuat bosan, lebih baik saya lanjutkan besok saja ya, sambil menunggu reaksi dari teman-teman semua. Apakah cerita tentang kebejatan saya ini layak di ketahui umum apa ndak?
Saya tunggu tanggapannya, sebelum saya melanjutkan ini di lain waktu.

Share/Save/Bookmark Subscribe



Related Posts :



26 komentar:

Anazkia on 26 Mei 2009 19.03 mengatakan...

Pertamaxxxx.... bener gak yah? hehe...

Anazkia on 26 Mei 2009 19.06 mengatakan...

Sip, dapet pertama. Dapet hadiah gak neh? :)

Wis mas, pokoke semangat dan yakinalah Allah akan menolong hamba-Nya dari tempat yang tidak di sangka2. Cerita hidupmu, hampir sama hanya saja kulo mboten nyopet alhamdulilah.

Ngasih makan anjing, saya juga pernah mas. Padahal, waktu itu saya sekolahnya di Aliyah. sama seperti mas, yang penting saya bisa nyelesein sekolah meskipun gak sampai kuliah.

beat2ws on 26 Mei 2009 19.08 mengatakan...

Cerita anda layak dibaca. Bisa jadi introspeksi diri.

Chuanx on 26 Mei 2009 19.36 mengatakan...

Cerita yang kaya gini yg berkualitas mas, keteladanan yang kita ambil kok.
lanjutkan..

buwel on 26 Mei 2009 20.29 mengatakan...

wuih jadi tambah simpatik neh...

Bani Biasa on 26 Mei 2009 22.13 mengatakan...

haaaa, bersambung lagii

riosisemut on 26 Mei 2009 23.06 mengatakan...

Wuaaaah.... salut salut Mas, gak papa lanjutin aja, aku turut mnukung koq.

partelon on 26 Mei 2009 23.25 mengatakan...

Yaaaaaaaaaaaa, bersambung lagi, kek pilem kartun jaman 80an, kekekekkk!!!
Salut Bro. Dan 1 hal pelajaran penting kali ini:
Postingan ini mnyadarkan kita pentingnya NGERTI HUKUM; Mas Mantan ini, saat nyopet, sudah ngerasa bahwa itu salah. Ini modal kuat buat memudahkan jalan menuju taubat. Maslahnay kita terkadang berbuat DOSA sambil membanggakannya!!!
Semoga ilmunya barokah dan manfaat, Bro...
Nice post... :)
(Eh, sori, lagi kranjinagn komeng panjang2 neh, kekekek)

Itik Bali on 27 Mei 2009 03.16 mengatakan...

Pokonya sekarang mas, jangan menengok ke masa lalu
masa depan lebih panjang..

Cak Win on 27 Mei 2009 08.29 mengatakan...

Setuju sama si Itik Bali :D
Lanjutkan yang lebih baik dari yang kemaren :D salam kenal boss

mas icang on 27 Mei 2009 15.04 mengatakan...

hmm.. menurut mas copet sekarang.. definisi kepept itu yang gimana ya? hehehe

tapi berubah menuju yg lebih baik itu adalahs ebuah kemajuan yg luar baisa. jarang orang yang bisa

mas icang on 27 Mei 2009 15.05 mengatakan...

hmm.. menurut mas copet sekarang.. definisi kepept itu yang gimana ya? hehehe

tapi berubah menuju yg lebih baik itu adalahs ebuah kemajuan yg luar baisa. jarang orang yang bisa

dwina on 27 Mei 2009 17.20 mengatakan...

duhhhh kok hari ini banyak yg ceritanya nggantung sih kek sinetron hehheheheh

jangan kuatir mas, kita2 masih duduk manis di sini dengerin cerita masa lalu mas sugeng.
di tunggu lanjutannya yah

Belajar Mencari Uang di Internet on 28 Mei 2009 12.00 mengatakan...

wah berati wajah-wajah melas kek saya ini bakat jadi copet ya hehehe... ditunggu mas cerita lanjutannya...

Cebong Ipiet on 28 Mei 2009 12.04 mengatakan...

woooooooooooooo wes di woco malah bersambung kekekkekeke....ayo ndang posting maning
tenang kang, kita cukup rasional untuk tdk menghakimi orang lain

Ivan@mobii on 29 Mei 2009 07.38 mengatakan...

Salam kenal y mas dari ivan@mobi ! Syukur dah kalu dah kembli ke jalanNya. Gak nyaka kisahnya di tulis sedemikian bagus dan mengalir dngan indahnya.

Anazkia on 29 Mei 2009 14.54 mengatakan...

Mas, urgent nih... minta imelnya yah. pokoknya, penting!

mantan copet on 29 Mei 2009 15.15 mengatakan...

@anaz : untuk apa to Mbak?
@ivan : salam kenal juga dari saya Mas.
@cebong ; iya Mbak segera dilaksanakan
@eros : hehe... mas Eros bisa saja
@dwina : iya Mbak, ni sudah saya tulis lanjutannya
@mas icang : alhamdulillah Mas, saya bisa
@cak win : salam kenal juga Cak
@itik bali : siap..! Mbak Itik
@partelon : trimakasih Mas, panjang jg ndak papa
@riosisemut, bani, chuanx, beat2ws : trimakasih Mas. Baiklah, saya lanjutkan.
@anaz : pertama ya Mbak, dapat ucapan sepecial saja deh, maturnuwun Mbak.

vie_three on 6 Juni 2009 12.37 mengatakan...

ayo lanjutkan saja mas ceritane.... aq mulai terbius iki karo cerita2ne pean.....

safira on 9 Juli 2009 00.14 mengatakan...

Assalamualaikum, mas mantan copet, komenin tulisan Dini ya, ni juga kisah tentang insyaallah mantan copet :P

Seti@wan Dirgant@Ra on 28 Desember 2009 15.19 mengatakan...

Masa lalu adalha pembelajaran yang sangat berharga.

Seti@wan Dirgant@Ra on 28 Desember 2009 15.22 mengatakan...

Masa lalu senantiasa menyimpan catatan istimema untuk dipelajari dan dicari makna-maknanya, ditadabburi hikmah-hikmahnya. Di samping kisah-kisah buram yang juga perlu digarisbawahi.

Seti@wan Dirgant@Ra on 28 Desember 2009 15.23 mengatakan...

Sekalipun pahit, sungguh tidak ada babakan masa lalu yang tidak memiliki arti. Semuanya menyimpan pelajaran yang dalam.

Seti@wan Dirgant@Ra on 28 Desember 2009 15.23 mengatakan...

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat." (QS An-Nashr: 1-3)

Seti@wan Dirgant@Ra on 28 Desember 2009 15.28 mengatakan...

Apa yang sudah terjadi, merupakan pengalaman. Bila itu pahit dirasakan, maka harus diwaspadai agar jangan sampai terulang lagi.

Seti@wan Dirgant@Ra on 28 Desember 2009 15.29 mengatakan...

Mohon maaf sobat,...
kayaknya saya terlalu banyak ngomong.

Posting Komentar

[ Full Page Comment Form ]

Maaf... karena banyak SPAMMER, terpaksa saya mengaktifkan MODERASI.
Ini adalah DOFOLLOW BLOG, setiap komen yg kamu tinggalkan, akan menjadi BACKLINK buat URL yg kamu sertakan, so... tinggalkan komen yg sesuai dengan TEMA, jangan NYEPAM..!!
Gunakan Name/URL biar lebih efektif. Jangan lupa pake http:// biar ndak BROKEN LINK.
Komentar APAPUN asal sopan dan punya aturan, PASTI saya terbitkan, KECUALI yg menyertakan LINK, akan langsung saya DELETE..!!

Back to TOP

 

Be A Great Person Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template