Rabu, Januari 20, 2010

Makna Keriput Di Kening Ayah

Suatu ketika tanpa sengaja, seorang gadis kecil melihat Ayahnya tengah mengusap-usap wajahnya sendiri yg nampak mulai keriput dengan badannya yg mulai sedikit bongkok, disertai dengan suara batuk yg begitu parau.

Gadis kecil itu lalu memberanikan diri untuk bertanya,

"Ayah... kenapa wajah Ayah kian hari kian keriput dengan badan yg kian membungkuk ?"

Sang ayah yg sedang beristirahat di beranda rumahpun lalu menjawab singkat,

"Sebab Ayahmu ini laki-laki, Nduk..."

Gadis kecil itu nampak bingung dan berguman dalam sendirinya,

"Saya ndak ngerti apa yg Ayah maksud...???"

Dengan kening berkerut, ia nampak termenung dalam kebingungannya. Namun Ayahnya hanya tersenyum sambil membelai rambut anaknya itu, lalu menepuk-nepuk pundaknya, kemudian berkata,

"Anakku, memang belum saatnya kamu mengerti banyak tentang lelaki..."

Demikianlah bisik sang Ayah, yg justru malah membuatnya semakin bingung.
Karena perasaan ingin tahunya yg cukup besar, gadis kecil itu lalu menghampiri Ibunya dan bertanya,

"Ibu, kenapa wajah Ayah jadi keriput dan badannya kian hari kian membungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya pun menjawab,

"Anakku... jika seorang lelaki benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarganya, ya memang akan seperti itu nantinya..."

Hanya itu jawaban Ibunya. Gadis itupun semakin mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengerti, apa maksud dari jawaban Ibunya tadi.

Haripun berganti dan waktu kian berlalu... sekarang gadis kecil itu sudah besar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap masih bingung juga, mencari-cari jawaban, kenapa wajah ayahnya yg dulu tampan, sekarang jadi keriput dan badannya kian membungkuk?
Hingga pada suatu malam, dia bermimpi di satu tidurnya.
Dalam mimpinya itu seolah dia mendengar suara yg sangat lembut, namun jelas sekali kata-katanya, yg ternyata itu adalah suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban atas kebingungannya selama ini.

"Saat Aku menciptakan seorang lelaki... Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi"

"Ku ciptakan untuknya bahu yg kuat dan berotot agar mampu membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya"

"Ku berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yg berasal dari tetesan keringatnya sendiri yg halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walau terkadang seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya"

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yg akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram air hujan dan dihembus angin malam. Dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya. Dan yg selalu dia ingat adalah di saat semua anggota keluarga menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya"

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan, yg akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya, keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya"

"Ku berikan perasaan ulet dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, dalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pulalah yg telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yg memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara"

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya"

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa istri yg baik adalah istri yg setia terhadap suaminya. Istri yg baik adalah istri yg senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yg diberikan kepada istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi"

"Ku berikan keriput diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup dalam keluarga bahagia. Dan Ku jadikan badannya kian bongkok agar dapat membuktikan, bahwa sebagai lelaki yg bertanggung-jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya"

"Ku berikan kepada lelaki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yg dimilikinya, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan juga di akhirat nanti"



Tersentaklah gadis itu dan terbangun dari tidurnya. Segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh, setelah itu dia hampiri peraduan ayahnya. Ia dapati sang Ayah sedang bersujud dan barulah ketika ayahnya berdiri gadis itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Ampuni anakmu ini Ayah...
Sungguh aku bisa ikut merasakan betapa berat bebanmu selama ini...."


PS :
Sahabatku semua... jika saat ini Ayah kalian masih bisa menemani menjalani hidup ini, jangan pernah kalian sia-siakan kesempatan untuk membuat hatinya merasa tersanjung bahagia.

Tapi bila Ayah kalian telah tiada, jangan putuskan tali silaturahmi yg telah dirintisnya, doakanlah agar Allah selalu
menjaganya dengan sebaik-baiknya, Amin."Share/Save/Bookmark Subscribe



Related Posts :



70 komentar:

Ivan@mobii on 20 Januari 2010 13.40 mengatakan...

Ayah dan Ibu Luar biasa buat ku kang... Mereka tetap jd idolaku. #ahem

Kabasaran Soultan on 20 Januari 2010 13.50 mengatakan...

Hm.....
Hanya ada satu komen ...
Sayangilah Ayah bunda

Freya on 20 Januari 2010 13.55 mengatakan...

ini buat sendiri ya? hmmm....rada maksa gimanah gituh hehehe *ditampar*

Anazkia on 20 Januari 2010 13.56 mengatakan...

Mas, ko postingan kita hampir sama...??? :(( :(( nangis dulu :(( :((

Posting gak kebeneran, tapi, intinya pada kesamaan, menghargai ayah dan ibu, selagi masih hidup.

ninneta on 20 Januari 2010 14.35 mengatakan...

Salam sobat, datang mempererat silaturahmi... maaf baru mampir lagi... kesehatan memburuk baru membaik... Semoga selalu dalam kebahagiaan...

Ninneta

-Gek- on 20 Januari 2010 14.37 mengatakan...

Wah.. begitu ya Mas. Merasa disentil nich saya...

Sang Cerpenis bercerita on 20 Januari 2010 15.04 mengatakan...

kisah yg patut dibaca oleh lelaki terutama mereka yg malas bekerja. hehehe..

attayaya on 20 Januari 2010 15.31 mengatakan...

semoga Allah selalu menjaga alm.bapakku dengan sebaik-baiknya, Amin.

Aulawi Ahmad on 20 Januari 2010 15.53 mengatakan...

tulisan yang sangat bermanfaat , tq 4 share :)

jhoni on 20 Januari 2010 16.53 mengatakan...

nasihat yang bagus kang!!!..........akan selalu saya ingat!!!!

Laksamana Embun on 20 Januari 2010 18.27 mengatakan...

Thanks kang atas postingan ini.. Saya akan slalu mengingat pesan akang ini.. Thanks

Neng Rara on 20 Januari 2010 18.50 mengatakan...

assalamualaikum..
seneng banget bisa dtg kesini lagi kang,,
sangat bermakna, penuh pembelajaran
salam

marsudiyanto on 20 Januari 2010 19.41 mengatakan...

Tanggung jawab seorang lelaki termasuk ayah memang dua kali lebih banyak dan lebih berat dari yang lain, meskipun ukuran dan kadar beratnya relatip

another story from me on 20 Januari 2010 21.02 mengatakan...

cerita yang bagus
sayang hubunganku dengan ayahku kurang baik :(

Clara on 20 Januari 2010 22.36 mengatakan...

uhhh, terharu aku bacanya Kang
ternyata Ayah seperti itu ya, bener" berkorban untuk keluarganya...

Sang Cerpenis bercerita on 20 Januari 2010 23.16 mengatakan...

kang, terima kasih sarannya. saya pake daftar link aja deh. jadi kalo ganti template gak hilang., tinggal copas aja.kaloblog roll suka hilang.

Pingin Ngeblog on 21 Januari 2010 00.14 mengatakan...

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu...

Bahumu yang kekar legam terbakar matahari, kini kurus dan terbungkuk....

Ayaaah... dalam hening sepi ku rindu...
Untuk.. menuai padi milik kita..

Saung Web on 21 Januari 2010 03.24 mengatakan...

Aduh kang jadi ingat almarhum .. saya tahu persis bagaimana ayahku dg gajih paspasan harus membiayai 4 orang anaknya yg sedang kuliah.. hikhik.. makasih

Link Tea on 21 Januari 2010 03.27 mengatakan...

Duh kang makasih telah mengingatkan.. sejak lebaran haji kemarin belum nyekar ke makamnya lagi...

Iklan Baris Gratis on 21 Januari 2010 03.34 mengatakan...

Masih terbayang kang.. saat nungguin dia di rumah sakit.. sampai pukul 05.00. lalu saya pulang dulu untuk shalat subuh.. n persiapan ke kantor .. namun pkl 07.00 .. dapat SMS .. beliau dah almarhum.. hikhik

phonank on 21 Januari 2010 03.44 mengatakan...

Dengan kerja kerasnya menafkahi keluarga, menjaga dan melindungi keluarga. Itulah tanggung jawab yang besar bagi seorang Ayah.

Ternyata keriput dikening dan semakin bungkuknya tubuh ayah, adalah akibat usaha kerja keras beliau untuk mengorbankan seluruh pikiran dan tenaga hanya untuk keluarga.

Phonank bangga dengan Ayah... Phonank cinta Keluarga

Itik Bali on 21 Januari 2010 04.39 mengatakan...

Ayahku meski bukan siapa-siapa aku menyayanginya
hmmm. postingan yang keren mas

ichaelmago on 21 Januari 2010 05.20 mengatakan...

merinding bacanya...
:'(

Fanda on 21 Januari 2010 07.53 mengatakan...

Terima kasih sudah bikin aku bangga banget sama papa.

Dhe on 21 Januari 2010 08.49 mengatakan...

kebalikan dari wanita tercipta yang pernah dhe baca di email. hehehe

walau dalam hidup dhe, yang bgitu berperan adalah ibu. (krn jujur.. ayah dulu adl org jahat -mnurut dhe kecil-). ehhehehe.. ttapi tetap aja sosok ayah pernah mewarnai hari2 dhe dan dhe bgitu sayang ayah..!!!

sda on 21 Januari 2010 11.26 mengatakan...

hiks....ayah.....

narti on 21 Januari 2010 11.27 mengatakan...

lengkap banget artikelnya...
jadi kangen ayah nih...hiks hiks...

Dinoe on 21 Januari 2010 11.50 mengatakan...

Jadi tersentuh membacanya kang...moga kita semua kaum laki-laki mampu jd ayah terbaik buat anak2 dan penyangga tiang keluarga...

fanny on 21 Januari 2010 12.05 mengatakan...

kang, linknya dah dipjang di Link sobat ya. tarengkyu

insanitis37 on 21 Januari 2010 12.21 mengatakan...

Ayahku telah tiada...tapi senantiasa hidup!! Good post.inspiratif sekali mas

Berry Devanda on 21 Januari 2010 13.11 mengatakan...

dalam sekali kang...
saya masih beruntung ayah saya masih dihup...
ingin menghabiskan masa tuanya dengan kebahagiaa...
nice post kang...

buwel on 21 Januari 2010 14.43 mengatakan...

duh jadi inget almarhum bapakku.....
Moga selalu sentausa bapakku disana...

a-chen on 21 Januari 2010 14.44 mengatakan...

Laki2 adalah khalifah ya....

attayaya on 21 Januari 2010 17.10 mengatakan...

ada yang njebolin atm di tempatku

restry on 21 Januari 2010 18.40 mengatakan...

terharu jadinya T.T thx ya

Ongki on 21 Januari 2010 19.37 mengatakan...

alhamdullilah, saya masih ditemani oleh ayah dan ibu saya yg hebat.. semoga saya bisa membahagiakan mereka

NURA on 21 Januari 2010 21.31 mengatakan...

salam sobat
memang perjuangan ayah kita,,sudah terlihat kerut dikening mereka,,itu tanda tanggung jawabnya dan kasih sayangnya pada anaknya.

Sekar Lawu on 21 Januari 2010 22.30 mengatakan...

nice posting Mas...saya punya tempat khusus dihati saya untuk almarhum Bapak saya...dia adalah laki2 pertama kepada siapa saya jatuh cinta...
terima kasih sudah menghadirkan cerita ini...

anyin on 22 Januari 2010 00.06 mengatakan...

hehe.. kebetulan sudah pernah baca kang.. di blog salah satu temanblog juga tapi lupa dimana

Cerita Inspirasi on 22 Januari 2010 00.09 mengatakan...

hiks.. jadi inget bapakku.. makasih kang atas pencerahannya.. ^^

Munir Ardi on 22 Januari 2010 00.10 mengatakan...

Ya Allah lindungilah kedua orang tuaku di alam sana Amin

Munir Ardi on 22 Januari 2010 00.14 mengatakan...

Ini kalau ikut kontes pasti menang lagi habis luar biasa bagusnya kang

SeNjA on 22 Januari 2010 01.22 mengatakan...

sangat terlambat mengunjungimu kang,....
tapi dari pada tidak bukan karena dua hari ini entah mengapa net begitu lemot dan aku mencari mood ku untuk BW karena buat ku BW bener2 harus saat aku ingin,untuk membuka hati membaca setiap tulisan yg para sahabat tuliskan,tidak sekedar mampir di SB saja...

sangat menginspirasi kang,aku jd rindu papaku... *_*

the others... on 22 Januari 2010 08.33 mengatakan...

Aku sayang ayahku dan aku kini merindunya...

catatan kecilku on 22 Januari 2010 08.35 mengatakan...

Ya Allah, ampunilah dosa kedua orangtuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil, amin

Hartinah on 22 Januari 2010 10.18 mengatakan...

terharu lagi nih baca postingannya. Mmg ktika sang Ayah ada, akan slalu ada perasaan aman dan tidak perlu memikirkan apa-apa. Lahh sekarang, giliran sudah tidak ada rasanya berbeda sekali, seperti pergi berperang tanpa perisai, baju baja, dan pedang.

IWA MANIETS on 22 Januari 2010 11.12 mengatakan...

YAH PEMIMPIN ITU ADALAH SEBUAH PENGARUH... DI BALIK CERITA KANG SUGENG DAPAT DIAMBIL HIKMAH BAHWASANYA DIBALIK KESUKSESAN LAKI-LAKI ADA WANITA YANG KUAT DI BELAKANGNYA

sda on 22 Januari 2010 11.23 mengatakan...

ayah, dengarkanlah, aku ingin menyanyi....
hiks hiks....ayah.....

7 taman langit on 22 Januari 2010 12.38 mengatakan...

salam sejahtera
tulisan yang luar biasa
saya sangat suka dengan semua kutipan dan pelajaran di atas
khususnya untuk Pria

Lina on 22 Januari 2010 13.12 mengatakan...

tulisannya menggugah sekali. mengingatkan saya untuk selalu berbakti pada ayah.

Seti@wan Dirgant@Ra on 22 Januari 2010 14.00 mengatakan...

Rembulan itu menatapku
Rautnya sendu.
Seakan ia ingin bersandar di bahuku
Berceloteh dalam pilu

Ayah….

Maafkan aku tak bisa hadir mengahapus dahaga rindumu
Menggoreskan secuil senyum, dalam kalabu ceritamu
Mengusap tetesan mutiara,
Yang kian menetes dari setiap pori-pori tubuhmu

Ayah…
Jika hari ini aku ada di sampingmu,
Seperti biasa, kan ku hapus letihmu
Sampai bulan letih menatapku
Dengan secangkir kopi di sampingmu

Namun tak sadar, kau telah lelap dalam tidurmu
Mengarungi elegi yang kau rindukan

Aku jadi kangen Almarhum Ayah kang....

hari Lazuardi on 22 Januari 2010 14.52 mengatakan...

kirim do'a buat Almarhum Ayahku dan Ayah di seluruh dunia..

KucingTengil on 22 Januari 2010 14.54 mengatakan...

I love you dad *loud of cry*

Abi Sabila on 22 Januari 2010 16.13 mengatakan...

ada bangga saat menyebut namanya
ada haru saat mengingat perjuangannya
ada senyum saat mengenang bersamanya
ada hasrat tuk menjadi sepertinya...

ayah........
banyak kata tak terucap saat menceritakanmu...

attayaya on 22 Januari 2010 16.16 mengatakan...

ayo semangat....................

ajeng on 22 Januari 2010 17.13 mengatakan...

Ehm..Jadi ingin memeluk Bapak *padahal setiap hari bertemu*

Zippy on 22 Januari 2010 20.36 mengatakan...

Wah..saya kira karena emang dasarnya udah tua makanya seperti itu, ternyata gak juga yah...
Baru tau saya mas, heheh...

Just Bryan on 22 Januari 2010 22.39 mengatakan...

Ayah memang luar biasa....
Ibu juga luar biasa...

Semoga saya bisa membahagiakan mereka..

angger on 23 Januari 2010 00.47 mengatakan...

ayah memang luar biasa,tapi ibu lebih luar biasa karena dalam hadist disebukan 3 kali baru setelah itu ayah..

dinoe on 23 Januari 2010 01.06 mengatakan...

met malam kang..setiap kali saya membaca ini..saya teringat almarhum bapak saya...begitu besar jasa seorang ayah terhadap anak-anaknya...semoga kita juga bisa jadi panutan ya kang...amin..

angger on 23 Januari 2010 01.26 mengatakan...

alhamdulilah follow sukses kang sugeng,moga dengan ini bisa menjalin tali persahabatan diantara blogger^_^

Pohonku Sepi Sendiri on 24 Januari 2010 03.54 mengatakan...

kisah yg penuh inspirasi kang.. mantabh.. mengingatkan kita akan perjuangan orang tua..

salam kenal juga ya kang.. ijin follow balik.. :)

elpa on 25 Januari 2010 09.49 mengatakan...

Walaupun aku tak di beri kesempatan melihat sosok ayah,sempet buatku sedih tp aku sadar semua sudah menjadi takdir,menangis meraungpun gak akan mengembalikan ayah yg sudah tenang di alam sana.ku tahan kesedihan,kerinduan,demi menjaga hati ibuku.aku berusaha tegar walaupun itu adalah menjadi kekurangan ku.bersyukurlah yg masih ada ayah masih merasakan perhatiannya.jauh dari ibuku,kadang ku bs nangis mengingat almarhum ayah tak kurasakan sama sekali kehadirannya..sudahlah gak mau cengeng...

setiakasih on 26 Januari 2010 17.36 mengatakan...

Salam hormat dan salam kenal..
tersentuh aku membacanya.

Ternyata kita wajib menghargai jasa dan pengornanan sang Ayah.

travel surabaya ke bali on 28 Januari 2010 14.58 mengatakan...

sungguh suatu cerpen yang menarik untuk dibaca'
thx

abdulloh on 30 Januari 2010 11.50 mengatakan...

hello reportedly good friends?

abdulloh on 30 Januari 2010 11.51 mengatakan...

hello reportedly good friends?

abdulloh on 30 Januari 2010 11.51 mengatakan...

hello reportedly good friends?

Sang Cerpenis bercerita on 4 April 2010 11.24 mengatakan...

jadi perhatiin kening papaku yg berkeriput nih

Travel Jakarta Bandung on 5 Agustus 2010 23.50 mengatakan...

artikel yang bagus

Posting Komentar

[ Full Page Comment Form ]

Maaf... karena banyak SPAMMER, terpaksa saya mengaktifkan MODERASI.
Ini adalah DOFOLLOW BLOG, setiap komen yg kamu tinggalkan, akan menjadi BACKLINK buat URL yg kamu sertakan, so... tinggalkan komen yg sesuai dengan TEMA, jangan NYEPAM..!!
Gunakan Name/URL biar lebih efektif. Jangan lupa pake http:// biar ndak BROKEN LINK.
Komentar APAPUN asal sopan dan punya aturan, PASTI saya terbitkan, KECUALI yg menyertakan LINK, akan langsung saya DELETE..!!

Back to TOP

 

Be A Great Person Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template