Sabtu, Mei 01, 2010

Pitutur Luhur, Memayu Hayuning Pribadi (Mencari Jati Diri)

Suroboyo, 1 Mei 2010, 23:51:09 WIB.

Sugeng ndalu dulur... sugeng pinanggihan malih kaliyan kula Kang Sugeng, admin-ipun Be A Great Person.

Nuwunsewu... lumantar postingan meniko, kula badhe ngaturaken salah sawijining pitutur saking leluhur kula engkang asli tiyang Jawi inggih menika bab, memayu hayuning pribadi utawi mencari jati diri (boso Indonesia-nipun).
Mangga dipun simak sareng-sareng.

"dadi manungsa kuwi sing paling utama, aja sok ngendel-endelake samubarang kaluwihane. Apa maneh mamerake kasugihan lan kapinterane. Yen anggone ngongasake dhiri mau mung winates ing lathi tanpa bukti, dhonge pakarti kaya mangkono iku yo bakal ngengon awak-e dadi salah sawijining manungsa kang ora aji.
Luwih prayoga turuten kae pralampitane tanduran pari. Pari kang mentes kuwi yo mesthi bakal tumelung, lha... kang ndhongak mracihnani yen pari kuwi kothong tanpa isi."


Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini,

"jadi manusia itu yg paling utama, janganlah suka menonjol-nonjolkan segala macam kelebihannya, apalagi selalu memamerkan kekayaan dan kepandaiannya. Karena perbuatan seperti itu hanya akan membuat dirinya menjadi bahan ejekan orang lain dan dianggap gak penting.
Lebih baik ikutilah perilaku dari tumbuhan padi. Padi yg makin berisi itu pasti akan semakin merunduk, sedangkan yg masih tegak itu justru menandakan bahwa padi tersebut gabuk/mandul atau kosong tanpa isi pada bulir-bulirnya.
Artinya, kita hidup itu harus selalu mengedepankan kesopanan dan juga santun terhadap orang lain, selalu rendah hati dan jangan malah membangga-banggakan kelebihannya atau menunjukkan kesombongannya. Karena sebenarnya kesombongan itu hanyalah sebuah ambisi tentang bagaimana caranya agar kelebihan kita itu selalu dapat pengakuan dari orang lain."


"engkang nomer kalih, 'sarwa duweo rumangsa nanging ojo rumangsa sarwa duwe'.
Iku yen ditulis genah, katone pancen yo mung diwolak-walik wae, nanging surasane jebul kaya bumi karo langit.
Surasanane ukara kuwi yoiku, dadio manungsa kang tansah nuduhake watak kang kebak welas asih, wicaksana ing saben laku lan rumangsa dosa samangsa gawe kapitunane liyan.
Aja malah nuduhake watak ngedir-edirake, wengis satindak laku polahe. Yen nggayuh pepinginan ora maelu laku dudu. Samubarang pakarti nistha ditrajang wani."


Terjemahan bebasnya seperti ini,

"sedangkan yg kedua, 'miliki selalu perasaan tapi jangan suka merasa selalu memiliki (segala hal)'
Kalimat itu kalau ditulis memang jelas hanya di bolak-balik saja, akan tetapi sebenarnya keduanya memiliki makna yg sangat jauh berbeda ibaratkan langit dan bumi.
Makna kalimat itu kira-kira begini, jadilah manusia yg penuh dengan belas kasih, mengutamakan kebijaksanaan di setiap perilaku dan selalu merasa berdosa jika melakukan perbuatan yg membuat orang lain kecewa atau tersakiti.
Jangan malah memperlihatkan watak yg selalu menonjolkan, sifat bengis dalam segala perbuatannya. Jika ingin mencapai sebuah keinginan selalu mengunakan berbagai macam cara dan semua perbuatan yg tecela pun dilakukan demi untuk mendapatkan keinginannya."

Demikian tadi sedikit penjelasan makna tentang pitutur luhur dari nenek moyang saya yg asli orang Jawa.
Semoga tulisan saya kali ini mampu menumbuhkan inspirari pada diri kalian semua.Share/Save/Bookmark Subscribe



Related Posts :



46 komentar:

munir ardi on 2 Mei 2010 05.17 mengatakan...

kulo sido sing pisanan moco mutiara leluhur sing mulia nilai (benar nggak ya atau ngaco)

Blogger Bumi Lasinrang on 2 Mei 2010 05.18 mengatakan...

sebuah petuah yang mengandung nilai-nilai luhur yang sangat tinggi

achen on 2 Mei 2010 06.51 mengatakan...

rendah hati dan selalu toleransi gitu ea Kang...

buwel on 2 Mei 2010 06.51 mengatakan...

pitutur jowo emang maknyuss...

maiank on 2 Mei 2010 07.44 mengatakan...

nyuwuuun sewuuuuu
hihihihi

kalo gak ada 50 ribu ga papa kok kang...-bercandaaa-
pinter banget kang bahasa jawa kromonya inggilnya(bener gak kromo?)hehhe

maknanya pas mantabbb. hloh??hehehe

Mattwahyu on 2 Mei 2010 09.40 mengatakan...

Kangmas Sugeng ... petuah itu indah dan maknanya dalam sekali. Seandainya generasi saat mau melaksanakan dan memprhatikan petuah2 itu

Dimas on 2 Mei 2010 09.46 mengatakan...

waduh kang, sekarang blognya multi bahasa ya hehe...

Artikel Internet Online on 2 Mei 2010 09.48 mengatakan...

terima kasih kang udah mau mengingatkan meski dengan bahasa yg saya nggak ngerti hehe..
untung ada terjemahannya, klo nggak ada cuman bisa garuk2 kepala deh...

sda on 2 Mei 2010 10.26 mengatakan...

bagus sekali, penuh makna.

narti on 2 Mei 2010 10.27 mengatakan...

kapan bisa bahasa halus begini...
makasih banget artikelnya, mengamalkannya sangat berat dalam kehidupan sehari-hari.

TUKANG COLONG on 2 Mei 2010 10.59 mengatakan...

setelah membacanya, seakan dapet pencerahann..

bintang on 2 Mei 2010 12.12 mengatakan...

mantaaappp
seperti ayah nasehatin anaknya
dalam setingan budaya jawa yang masih kental banget

mathur nuwun kang...

fajar on 2 Mei 2010 12.23 mengatakan...

kang sugeng...memang mantaps...2 thumbs lagi....janganlah engkau berjalan diatas muka bumi ini dengan sombong....

aulawi ahmad on 2 Mei 2010 14.08 mengatakan...

tq nasihatnya kang :)

aulawi ahmad on 2 Mei 2010 14.15 mengatakan...

tq nasihatnya kang :)

Sang Cerpenis bercerita on 2 Mei 2010 14.28 mengatakan...

setuju..jgan sombong intinya ya.

catatan kecilku on 2 Mei 2010 18.01 mengatakan...

Betapa indahnya pitutur para leluhur...
Memang tak ada yg patut kita sombongkan di dunia ini karena di atas langit masih ada langit..!
So, fikosofi tanaman padi harus tetap dijalankan.

the others on 2 Mei 2010 18.04 mengatakan...

Kang, makasih udah sharing pitutur luhur para leluhur-nya ya...?
Semoga dapat kuingat juga... Thanks

mocca_chi on 2 Mei 2010 19.34 mengatakan...

rendah hati, kurasa ajaran semua budaya dan agama bang hiii

anyin on 2 Mei 2010 23.36 mengatakan...

semoga kita bisa lekas mencapai aktualisasi diri ^^v

KucingTengil on 3 Mei 2010 02.35 mengatakan...

setiap nenek moyang, pasti ada meninggalkan petatah petitih atau nasehat yg wise banget

DewiFatma on 3 Mei 2010 08.59 mengatakan...

Kirain tadi nggak ada terjemahannya, Kang.. Saya udah hampir balik kanan mo nyetop ojek pengen balik, pas ngelirik untuk yang terakhir kali, ealah... ada toh terjemahannya. Makasih petuah luhurnya Kang.. Pantes orang Jawa tuh lembut-lembut..kalem..tenang.. Kayak suamiku yang ngguanteng itu loh Kang.. preeet..! :P

joe on 3 Mei 2010 09.30 mengatakan...

ada banyak hikmah yang bisa didapat dari pitutur tersebut...

hendro-prayitno on 3 Mei 2010 14.02 mengatakan...

mudah-mudahan saya manusia yang masih punya kesalahan bisa menerapkan kalimat itu kang,,

ا شين on 3 Mei 2010 14.57 mengatakan...

mapir Kang.. :-)

buwel on 3 Mei 2010 14.57 mengatakan...

selamat siang...

Dinoe on 3 Mei 2010 15.02 mengatakan...

Makasih atas pencerahannya kang..

Rubiyanto on 3 Mei 2010 15.42 mengatakan...

artikel yang sangat bagus om, entah mengapa saya tiba-tiba jadi inget Jogja, dan beberapa bait yang pernah diucapkan oleh Ayah saya ....
Keren Om....

nietha on 3 Mei 2010 16.03 mengatakan...

numopang baca aja ya mas..

Seti@wan Dirgant@Ra on 3 Mei 2010 16.25 mengatakan...

Kearifan lokal yang sarat akan petuah moral...
Makasih banyak Kang.

richoyul on 3 Mei 2010 20.45 mengatakan...

sederhana dalam kehidupan tanpa harus memamerkan apapun untuk mencari eksistensi karena justru bisa jadi bumerang klo kita terlalu berlebihan dalam hidup

Clara on 4 Mei 2010 00.17 mengatakan...

hmm...renungan yg menarik
trims ya Kang, jadi lebih intropeksi diri lagi nih ^^

bisnis online on 4 Mei 2010 10.23 mengatakan...

harus tetap rendah diri yaaa

idana on 4 Mei 2010 10.27 mengatakan...

thx petuahnya...bisa buat renungan apakah saya menjalankan sesuai petuah atau malah melenceng :D

Itik Bali on 4 Mei 2010 13.17 mengatakan...

Bahasa Jawanya Nglimis...
oke bener..

attayaya on 4 Mei 2010 16.55 mengatakan...

alhamdulillah...
untung ada terjemahannya
makasih banyak kang

AeArc on 4 Mei 2010 17.16 mengatakan...

wah.. ko malah jadi maen translet"an begini, hahaha.. keren artikelnya sob!

bintang on 4 Mei 2010 21.32 mengatakan...

yang penting jalani hidup dengan sederhana dan tetep optimis.
gitu kali ya kang.. hehhhe
mampir lagi nih kang

dheelaa on 4 Mei 2010 23.19 mengatakan...

mungkin seperti ilmu padi ya, semakin berisi semakin menunduk. Kadang kita lupa dengan yang namanya syukur, sehingga terkadang kita menjadi sombong dan lupa diri

angger on 4 Mei 2010 23.28 mengatakan...

sae sanget pitutur kang sugeng,
memang mempunyai banyak hikmah yang terkandung

I Am on 29 Mei 2010 12.23 mengatakan...

Kamu hebat yang Kang, bisa mewarisi budaya Bahasa Jawa selembut itu... semoga aslinya kamu emang kalem, ora pecicilan koyo aku.. hahah #muntah

Itu nyindir aku yahh??? aku kan emang nggak rendah hati, tapi rendah jiwa.. #halah makin ngelanturr

Anonim mengatakan...

wah berarti kita jangan sombong yo kang..

nugrahanto mengatakan...

Nuwun sewu,
Kula sarujuk sanget, nadyan betahaken wekdal mirunggan lan kekiyatan, saha kencenging tekad, dados titah kang prayogi ing ngarsaning Gusti

ariefsubian@yahoo.com mengatakan...

mantab

joncell on 8 Maret 2011 20.21 mengatakan...

matur suwon kang sugeng pituturipun sae lan luhur sanget.. monggo kito sareng2 belajar dados pribadi ingkang luhur(Be A Great Person)

panji kuntowo mengatakan...

alhamdulilah,,,, marto nuwun geh mas pitutur ipun ,,,,,,,kulo tiang alit aget ipun namung moco mugidadio tambahe gelmuu,,,,aminn

Posting Komentar

[ Full Page Comment Form ]

Maaf... karena banyak SPAMMER, terpaksa saya mengaktifkan MODERASI.
Ini adalah DOFOLLOW BLOG, setiap komen yg kamu tinggalkan, akan menjadi BACKLINK buat URL yg kamu sertakan, so... tinggalkan komen yg sesuai dengan TEMA, jangan NYEPAM..!!
Gunakan Name/URL biar lebih efektif. Jangan lupa pake http:// biar ndak BROKEN LINK.
Komentar APAPUN asal sopan dan punya aturan, PASTI saya terbitkan, KECUALI yg menyertakan LINK, akan langsung saya DELETE..!!

Back to TOP

 

Be A Great Person Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template